Ada kesalahan di dalam gadget ini

Budaya Merarik Dalam Kehidupan Suku Sasak Lombok

BUDAYA MERARIK (KAWIN LARI)
 DALAM KEHIDUPAN SUKU SASAK LOMBOK, 
NUSA TENGGARA BARAT

ABSTRAK

Merari’ sebagai sebuah tradisi yang biasa berlaku pada suku Sasak di Lombok. Bagi masyarkat Sasak, merari’ berarti mempertahankan harga diri dan menggambarkan sikap kejantanan seorang pria Sasak, karena ia berhasil mengambil (melarikan) seorang gadis pujaan hatinya. Oleh karenanya tepat jika dikatakan bahwa merari’ merupakan hal yang sangat penting dalam perkawinan Sasak. Bahkan, meminta anak perempuan secara langsung kepada ayahnya untuk dinikahi tidak ada bedanya dengan meminta seekor ayam. Adapun prosesi merari menurut hukum adat sasak yaitu; Merangkat, Mesejati, Selabar, Bait Wali, Nikahan. Sorong Serah Aji Krame, Nyongkolan


PENDAHULUAN

Dalam adat Sasak pernikahan sering disebut dengan merari’. Secara etimologis kata merari’ diambil dari kata “lari”, berlari. Merari’an berarti melai’ang artinya melarikan. Kawin lari, adalah sistem adat penikahan yang masih diterapkan di Lombok. Kawin lari dalam bahasa Sasak disebut merari’. secara terminologis, merari’ mengandung dua arti. Pertama, lari. Ini adalah arti yang sebenarnya. Kedua, keseluruhan pelaksanaan perkawinan menurut adat Sasak.
Pelarian merupakan tindakan nyata untuk membebaskan gadis dari ikatan orang tua serta keluarganya.
Berdasarkan informasi yang kumpulkan penulis dari beberapa sumber di internet serta wawancara via telepon dengan beberapa nara sumber dan bebeperapa forum di internet tentang sejarah munculnya tradisi kawin lari (merari’) di pulau Lombok, paling tidak ada dua pandangan yang mengemuka, yaitu:
1.Orisinalitas merari’. Kawin lari (merari’) dianggap sebagai budaya produk lokal dan merupakan ritual asli dan leluhur masyarakat Sasak yang sudah dipraktikkan oleh masyarakat-sebelum datangnya kolonial Bali maupun kolonial Belanda. Pendapat ini didukung oleh sebagian masyarakat Sasak yang dipelopori oleh tokoh-tokoh adat, di antaranya adalah H.Lalu Azhar, mantan Wagub NTB dan kini ketua Masyarakat Adat Sasak (MAS); dan peneliti Belanda, Nieuwenhuyzen mendukung pandangan ini. Menurut Nieuwenhuyzen, sebagaimana dikutip dari situs Depdikbud, banyak adat Sasak yang memiliki persamaan dengan adat suku Bali, tetapi kebiasaan atau adat, khususnya perkawinan Sasak, adalah adat Sasak yang sebenarnya.
2.Akulturasi merari’. Kawin lari (merari’) dianggap budaya produk impor dan bukan asli dari leluhur masyarakat Sasak serta tidak dipraktikkan masyarakat sebelum datangnya kolonial Bali. Pendapat ini didukung oleh sebagian masyarakat Sasak dan dipelopori oleh tokoh agama, Pada tahun 1955 di Bengkel Lombok Barat, Tuan Guru Haji Saleh Hambali menghapus, kawin lari (merari’) karena dianggap manifestasi hinduisme Bali dan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hal yang sama dapat dijumpai di desa yang menjadi basis kegiatan Islam di Lombok, seperti Pancor, Kelayu, dan lain-lain.
Menurut John Ryan Bartholomew, praktik kawin lari dipinjam dari budaya Bali. Analisis antropologis historis yang dilakukan Clifford Geertz dalam bukunya Internal Convention in Bali (1973), Hildred Geertz dalam, tulisannya An Anthropology of Religion and Magic (1975), dan James Boon dalam bukunya, The Anthropological Romance of Bali (1977), seperti dikutip Bartolomew, memperkuat pandangan akulturasi budaya Bali dan Lombok dalam merari’. Solichin Salam menegaskan bahwa praktik kawin lari di Lombok merupakan pengaruh dari tradisi kasta dalam budaya Hindu Bali. Berdasarkan kedua argumen tentang sejarah kawin lari (merari’) di atas, tampak bahwa paham akulturasi merari’ memiliki tingkat akurasi lebih valid (Hari Wahyudi, 2011: ary-hariwahyudi.blogspot.com)

Dalam konteks ini penulis lebih condong kepada pendapat kedua, yakni merari’ ini dilatarbelakangi oleh pengaruh adat hindu-Bali. Sebagai bagian dari rekayasa sosial budaya hindu-Bali terhadap suku Sasak, dalam suku Sasak dikenal adanya strata sosial yang disebut triwangsa. Strata sosial ini sudah jelas sama dengan pola hindu-Bali.
Tradisi merari’ ini merupakan bagian dari kebudayaan. Kebudayaan dan kehidupan sosial masyarakat Lombok tidak bisa lepas dari dikotomi kebudayaan nusantara. Ada dua aliran utama yang mempengaruhi kebudayaan nusantara, yaitu tradisi kebudayaan Jawa yang dipengaruhl oleh filsafat Hindu-Budha dan tradisi kebudayaan Islam. Kedua aliran kebudayaan itu Nampak jelas pada kebudayaan orang  Lombok. Golongan pertama, di pusat-pusat kota Mataram dan Cakranegara, terdapat masyarakat orang Bali, penganut ajaran Hindu-Bali sebagai sinkretis Hindu-Budha.
Golongan kedua, sebagian besar dari penduduk Lombok, beragama Islam dan peri-kehidupan serta tatanan sosial budayanya dipengaruhi oleh agama tersebut. Mereka sebagian besar adalah orang Sasak.
Jadi Merari’ sebagai sebuah tradisi yang biasa berlaku pada suku Sasak di Lombok ini memiliki logika tersendiri yang unik. Bagi masyarkat Sasak, merari’ berarti mempertahankan harga diri dan menggambarkan sikap kejantanan seorang pria Sasak, karena ia berhasil mengambil (melarikan) seorang gadis pujaan hatinya. Sementara pada isi lain, bagi orang tua gadis yang dilarikan juga cenderung enggan, kalau tidak dikatakan gengsi, untuk memberikan anaknya begitu saja jika diminta secara biasa (konvensional), karena mereka beranggapan bahwa anak gadisnya adalah sesuatu yang berharga, jika diminta secara biasa, maka dianggap seperti meminta barang yang tidak berharga. Ada ungkapan yang biasa diucapkan dalam bahasa Sasak: Ara’m ngendeng anak manok baen (seperti meminta anak ayam saja).  Dalam konteks ini, merari’ dipahami sebagai sebuah cara untuk melakukan prosesi pernikahan, di samping cara untuk keluar dari konflik.
Perkawinan bagi masyarakat Sasak memiliki makna yang sangat luas, bahkan menurut orang Sasak, perkawinan bukan hanya mempersatukan seorang laki-laki dengan seorang perempuan saja, tetapi sekaligus mengandung arti untuk mempersatukan hubungan dua keluarga besar, yaitu kerabat pihak laki-laki dan kerabat pihak perempuan.
Berdasarkan tujuan besar tersebut, maka terdapat tiga macam perkawinan dalam masyarakat suku Sasak Lombok, yaitu:
1. perkawinan antara seorang pria dengan seorang perempuan dalam satu kadang waris yang disebut perkawinan betempuh pisa’ (misan dengan misan)
2.Perkawinan antara pria dan perempuan yang mempunyai hubungan kadang jari (ikatan keluarga) disebut perkawinan sambung uwat benang (untuk memperkuat hubungan kekeluargaan)
3.Perkawinan antara pihak laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan perkadangan (kekerabatan) disebut perkawinan pegaluh gumi (memperluas daerah/wilayah).
4.Dengan demikian, maka semakin jelas bahwa tujuan perkawinan menurut adat Sasak adalah untuk melanjutkan keturunan (penerus generasi), memperkokoh ikatan kekerabatan dan Memperluas hubungan kekeluargaan yaitu melarikan anak gadis untuk dijadikan istri. Merari’ sebagai ritual memulai perkawinan Selanjutnya, apabila membahas perkawinan suku Sasak, tidak bisa tidak membicarakan merari’, merupakan fenomena yang sangat unik, dan mungkin hanya dapat ditemui di masyarakat Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Begitu mendarah dagingnya tradisi ini dalam masyarakat, sehingga apabila ada orang yang ingin mengetahui status pernikahan seseorang, orang tersebut cukup bertanya apakah yang bersangkutan telah merari’ atau belum. Oleh karenanya tepat jika dikatakan bahwa merari’ merupakan hal yang sangat penting dalam perkawinan Sasak. Bahkan, meminta anak perempuan secara langsung kepada ayahnya untuk dinikahi tidak ada bedanya dengan meminta seekor ayam.


Pelaksanaan Merari’ Menurut Hukum Adat Suku Sasak
Sebelum pelaksanaan merari’, antara perempuan dengan si laki-laki telah didahului dengan perkenalan yang dilanjutkan dengan acara yang disebut midang atau lalo midang yaitu kunjungan pihak laki-laki kerumah si perempuan.
Midang merupakan fase pertama  yang harus dilalui oleh pasangan muda mudi sebelum menuju perkawinan. Midang merupakan salah satu bentuk  kegiatan yang dilakukan oleh para  pemuda dalam upaya pencaharian pasangan hidup yang sesuai dengan keinginan atau pilhan hati. Para pemuda dengan leluasa  berkunjung ke rumah rumah gadis dengan tujuan memilih gadis yang cocok untuk dijadikan sebagai teman hidup dalam berumah tangga sehingga tidak jarang rumah seorang gadis di kunjungi oleh beberapa pemuda setiap malam.
Demikian halnya dengan seorang gadis yang di datangi beberapa pemuda setiap malam dapat memilih calon pasangan hidupnya dengan leluasa sehingga sampai si gadis menemukan pasangan yang cocok sebagai pelindung dan penanggungjawab dalam kehidupan berumah tangga.
Kedatangan para pemuda ke rumah si gadis pada malam hari dengan maksud ingin menjalin hubungan asmara antara kedua belah pihak disebut Midang.
Pada dasarnya pemidangan terjadi akbat dari adanya sebuah pertemuan yang dirangkai dengan perkenalan  terlebih dahulu, dimana pertemuan dan perkenalan itu biasanya terjadi pada  tempat tempat tertentu seperti pada upacara begawe (Pesta), musim tanam padi,  musim panen padi , tempat tempat pertunjukan seni, upacara bau nyale, dan tempat tempat hiburan lain yang biasa di hadiri oleh orang banyak.
kegiatan midang ini diatur dan diawasi dengan ketentuan adat yang sangat ketat antara lain :
a.Hanya dapat dilakukan pada malam hari
b.Waktunya sesudah waktu sholat magrib sampai ± Jam 20. 00. Wita
c.Tidak boleh melarang laki-laki lain untuk midang pada perempuan yang sama.
d.Waktu midang di batasi dan harus memberi kesempatan pada laki-laki lain yang midang
e.Orang tua sama sekali tidak dapat ikut campur dalam pembicaraan mereka selama midang

Pada saat midang inilah si perempuan bebas memilih siapa diantara si laki-laki yang midang untuk menjadi calon suami yang diinginkannya. Setelah si perempuan menentukan pilihan yang disebut pade teruk atau pade mele maka mereka merencanakan dan membuat janji kapan mereka akan merari’ atau lari bersama/memaling. Memaling dilaksanakan pada waktu malam antara waktu maghrib dan isya, tatkala penduduk sedang pergi ke mesjid atau sedang makan malam. Waktu tersebut digunakan agar tidak terlalu menonjol seandainya seorang wanita berjalan sendirian diluar halaman rumahnya, demikian pula pihak keluarga tidak curiga seandainya anak perempuannya keluar rumah dengan alasan ke mesjid. Di luar rumah pada malam yang telah ditentukan, sesosok tubuh mengendap dibalik kegelapan malam. Dengan suitan kecil atau dengan aba-aba lain si perempuan sudah berada diluar rumah.
Selanjutnyasi perempuan pergi bersama laki-laki yang kelak akan menjadi suaminya menuju sebuah tempat, biasanya rumah keluarga si laki-laki yang berada diluar kampung si perempuan. Di tempat itulah untuk beberapa hari si perempuan berada dalam paseboan atau persembunyian, sedangkan si laki-laki berada dirumah yang lain, atau di tempat yang sama tetapi dalam kamar yang berbeda.
 Perempuan tersebut ditempat persembunyiannya menurut adat tidak diperkenankan menampakkan dirinya dimuka masyarakat apalagi keluarganya. Jika hal itu dilakukan, pihak keluarga menganggap bahwa si laki-laki menghinanya karena baik pemberitahuan maupun segala pelaksanaan adat yang dituntut bagi lelaki tersebut belum dilakukan sesuai dengan ketentuan adat.
 Setelah terjadinya merari’ maka harus di lakukan serangkaian kegiatan pelaksanaan adat :

1.Merangkat
Merangkat yaitu suatu acara makan berdua sebagian awal dari sebuah proses perkawinan, acara merangkat dilakukan pada malam pertama calon pengantin wanita datang di gubug atau di kampung calon pengantin laki. Pada malam itulah kedua calon pengantin makan bersama (makan berdua) dan ditemani oleh satu orang perempuan tua atau salah seorang keluarga dekat dari calon pengantin laki (dulu disebut Inaq Umbaq).
Dikatakan merangkat karena makanan yang disajikan dengan menggunakan satu buah wadah yang berisi satu butir telur ayam kampung, satu satu piring nasi, satu satu ekor ayam bakar panggangan lengkap dengan bumbunya (dulu wadahnya memakai dulang janggal dan ditutup dengan tembolaq daun duntal warna merah).  Pada saat makan kedua calon pengantin, mereka duduk berhadapan dan calon pengantin laki sebaiknya bercerita tentang situasi keluarga, keadaan kampungnya, keadaan masyarakat kampungnya dan lain lain, artinya supaya calon pengantin wanita mengetahuinya untuk menjaga ketersinggungan dirinya. Pada malam datangnya calon pengantin ini, kaum muda-mudi juga datang meramaikan acara serta menyaksikan calon pengantin wanita sambil membawa rokok, ayam, telur, gula, kopi, teh dan lain-lain untuk sama – sama membalas jasa atau juga menanam jasa kepada kedua calon pengantin.
Menanam jasa artinya memberikan kepada kedua calon pengantin, sebab dikala nanti mereka pasti akan menikah akan dibalas juga dengan seperti itu, akan tetapi tidak tercatat sebagai hutang. Kalau terjadi tidak diberikan tidak menjadi permasalahan.Membalas jasa artinya membalas kebaikan calon pengantin bahwa pada saat belum kawin pernah membantunya, (pertolongan jasa dibalas dengan jasa disebut Besiruan). Pada malam itu juga semua pemuda pemudi ikut makan bersama – sama sambil membuat pinje – panje (teka teki) yang sifatnya Humoris.


2.   Mesejati/sejati 
Mesejati adalah pemberitahuan yang dilakukan oleh keluarga pengantin laki kepada keluarga pengantin wanita bahwa anak kedua keluarga tersebut telah kawin. Orang yang dating melakukan mesejati paling sedikit 4 orang yang terdiri atas keliang ( Kadus ), Ketua RT, Ketua RW dan satu orang dari pihak keluarga pengantin laki-laki. Ke empat orang tesebut mendatangi kepala desa, kepala dusun dan ketua RT dimana pengantin perempuan bertempat tinggal yang selanjutnya bersama-sama mendatangi orang tua dari pengantin wanita. Ke empat utusan dari keluarga pengantin laki-laki melaporkan bahwa proses mbait (mengambil) dilakukan tanpa sepengetahuan keluarga calon pengantin wanita.
Hal ini Untuk menghindari kecemasan orang tua calon pengantin wanita yang kehilangan anak gadisnya, maka sesegera mungkin dilakukan pemberitahuan. Biasanya langsung bersamaan dengan acara merangkat atau jika ditunda waktunya paling lambat 3 hari.
Utusan dari pihak laki-laki dilengkapi dengan bawaan yang disebut sesirah.
Ini merupakan perlengkapan terpenting dan bermakna paling sakral dalam setiap tahapan prosesi perkawinan selanjutnya.
Sesirah adalah sebuah perlambang berupa wadah terbuat dari talam kuningan (tidak boleh terbuat dari bahan logam yang lain) yang pada bagian dalamnya ditaruh kain usap, kain penutup muka orang meninggal, sebagai alasnya. Di atas kain usap ditaruh sebilah keris, kain kembang komak, selembar kain tenun bermotive hitam-putih, jarum dan benang. Semua perlengkapan sesirah ini, secara filosofis mengandung makna yang bertalian dengan soal hidup dan mati
Proses perkawinan bagi suku Sasak disadari sebagai peristiwa kehidupan yang dahsyat apalagi skenario yang ditempuh dengan cara mbait (merariq). Tidak dapat diukur seberapa dahsyatnya peristiwa merari’ itu telah mempengaruhi suasana emosional pihak keluarga besar calon pengantin wanita, karena itu pihak keluarga calon pengantin laki bersiap untuk menerima resiko, bahkan bila perlu ditebus dengan kematian sekalipun. Ungkapan permohonan maaf yang tidak terhingga itu diwujudkan dalam wujud membawa sesirah. Jadi dengan sesirah seolah pihak keluarga laki-laki hendak berkata:
"Jika kami berbuat salah yang tiada dapat dimaafkan, bunuhlah kami dengan keris ini, tutuplah muka kami dengan kain usap yang kusiapkan. Tetapi jika kami telah sesuai dengan adat yang ditradisikan, sudilah kiranya membuka dialog demi hubungan baik kedua keluarga, tak ubahnya seperti merajut jarum dan benang"
 Sebelum memasuki rumah orang tua pihak wanita, utusan mesejati akan memukul kemong (gong kecil yang juga terbuat dari kuningan) sebagai pertanda mereka akan melakukan mesejati. Maksudnya agar diketahui oleh masyarakat sekitar dan tidak mendapat halangan dan gangguan
Ketika memasuki halaman, diucapkan salam secara Islam lalu menyampaikan maksudnya, yang intinya menyampaikan salam hormat putrinya dan calon suaminya bahwa mereka telah merari’ dan kini berada disuatu tempat yang baik dan aman, sehingga tidak timbul pirasat bahwa putrinya mendapat suatu musibah atau kecelakaan. Biasanya orang tua wanita akan mengatakan: Alhamdulillah.

3. Selabar
Kelanjutan dari mesejati adalah nyelabar, berasal dari kata selabar, yang berarti penyebarluasan kepada khalayak ramai tentang peristiwa merariq yang terjadi. Caranya, dengan memukul kemong sebanyak tiga kali. Dilakukan di depan bencingah (pendopo) desa, di pasar atau di perempatan jalan. Jika dilakukan di perempatan kemong dipukul di ujung jalan.
Selesai melakukan pemukulan kemong, utusan nyelabar menuju ke Kepala Desa atau Kepala Kampung dan dilanjutkan ke rumah orang tua pengantin wanita untuk melaporkan bahwa kegiatan nyelabar telah dilaksanakan.Dalam melakukan nyelabar, peralatan yang utama dan terpenting adalah sesirah yang dibawa pada waktu mesejati tetap harus dibawa.

4. Nuntut Wali 
Setelah dilakukan selabar maka kegiatan selanjutnya adalah bait wali (menuntut wali nikah) kepada pihak pengantin wanita. Keluarga pengantin laki-laki mendatangi keluarga pengantin wanita sebagaimana perjalanan waktu melakukan mesejati dan selabar tetapi pada waktu bait wali ditambah dengan satu orang  lagi yakni Kiyai atau penghulu. Di beberapa desa, bait wali didahului dengan acara perebaq pucuk. Secara harfiah perebaq berarti merebahkan/meletakkan, pucuk berarti ujung, sebagai kiasan dari senjata tajam, biasanya keris.
Jadi perebaq pucuk, berarti "gencatan senjata:" Situasi gencatan senjata ini terjadi, karena secara adat, sejak peristiwa merarik tersebut, kedua keluarga seolah-olah sedang dalam suasana bersitegang satu sama lain, sehingga perlu penyelesaian adat secara seksama. Penyelesaiannya melalui sorong serah aji krama yang diikuti nyongkol.
Kedatangan para utusan dari pihak pengantin laki termasuk kiyai atau penghulu meminta kesediaan wali atau orang tua laki dari pihak pengantin wanita untuk datang kerumah pihak pengantin laki-laki untuk menikahkan kedua pengantin. Jika wali dari pengantin wanita tidak bersedia menikahkan anaknya maka boleh diwakilkan,  itu sebabnya pihak pengantin laki-laki membawa kiyai atau penghulu.

5. Nikahan
Setelah dilakukan bait wali,  sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh wali dari pengantin wanita maka pihak pengantin laki melakukan persiapan mulai dari persiapan jamuan para tamu undangan, persiapan rombongan wali, persiapan tempat, persiapan maskawin serta kelangsungan acara. Acara pengambilan akad nikah biasanya dilakukan setelah selesai sholat ashar atau selesai sholat isya tergantung dari kesiapan wali pihak pengantin wanita.
Pada saat  pengambilan akad nikah berlangsung, biasanya penghulu atau kiyai menyuruh pengantin wanita  minta ijin agar dinikahkan dengan pengantin laki-laki kemudian dilanjutkan dengan pembacaan dua kalimah syahadat.
Wali dari pengantin wanita duduk berhadapan dengan pengantin laki-laki, sambil saling berjabat tangan wali  pengantin wanita mengucapkan ijab kabul dengan pengantin laki dengan bahasa yang nyaring, jelas, dan lancar tanpa terputus putus.
Untuk mas kawin apabila pengantin wanitanya masih gadis, maka yang menentukan adalah orang tua / wali sedangkan jika janda maka mas kawinnya ditentukan oleh pengantin wanita itu sendiri. Biasanya kalau pengantin wanitanya masih gadis maka orang tua / wali meminta maskawin berupa tanah atau perhiasan serta perlengkapan sholat, tetapi kalau janda tergantung keinginan diri sendiri.
Setelah pengucapan ijab qabul akad nikah maka pengantin laki-laki memberikan mas kawin kepada pengantin wanita pertanda telah resmi menjadi pasangan suami istri. Selanjutnya pengantin laki-laki membaca sigat atau taklik didepan pengantin wanita. Setelah pembacaan taqlik maka kedua pengantin berkeliling bersalaman menerima ucapan selamat dari semua keluarga dan tamu undangan yang hadir pada acara tersebut dan kedua pengantin menuju peristirahatan.

6. Sorong Serah Aji Krame
Sorong artinya dorongan, serah artinya Penyerahan, aji artinya nilai strata, krame artinya aturan. Maka sorong serah aji krame dapat di definisikan sebagai suatu dorongan kepada kedua orang tua pengantin untuk menyerahkan atau melepaskan (serah terima) anak mereka untuk hidup berumah tangga sehingga kedua pengantin tidak terikat pada orang tua mereka masing-masing. Didalam proses inilah nampak bahwa proses serah terima tanggung jawab kedua orang tua dan sanak saudara masing-masing dalam hal pemiharaan atau (pengasuh), disamping itu juga dalam proses sorong serah inilah merupakan puncak sidang krame adat perkawinan untuk bangse sasak (suku sasak), karena pada proses ini harus dihadiri oleh para sesepuh, para penglingsir, kepala desa, dan kepala kampung (keliang) dari kedua pengantin, proses sidang adat tersebut ditegaskan bahwa kedua pengantin dinyatakan syah bersuami Istri dan disaksikan oleh seluruh masyarakat kampung bahkan dari luar kampung (para tamu undangan).
Di dalam sidang majelis adat, diperbincangkan pula mengenai sanksi dan denda adat yang mungkin timbul akibat adanya pelanggaran di dalam seluruh rangkaian prosesi sebelumnya. Apabila terdapat denda maka pada saat itulah harus dibayarkan. Dari sudut pandang adat Sasak, sorong serah merupakan pengabsahan suatu perkawinan, agar para pengantin memperoleh hak-haknya secara adat. Sebaliknya, jika prosesi ini tidak dilalui maka kedua pengantin akan kehilangan hak-hak adat misalnya hak atas status sosial atau gelar-gelar adat bagi anak yang dilahirkan kelak, bahkan ada kemungkinan mereka akan kehilangan hak dalam soal warisan harta benda.upacara sidang majelis adat di sebut Bewacan.
Sorong serah yaitu upacara khusus untuk membayar aji krame. Dalam Ajikrame ini yang wajib atau yang sifatnya yang wajib harus dibawa oleh pihak laki-laki yang disebut dengan sejero ning aji :
a.Sesirah
b.Olen : bawaan yang berupa kain ini merupakan symbol yang berarti bahwa seorang laki-laki tersebut telah mampu baik berupa sandang pangan, papan.
c.Nampak lemah : bawaan berupa uang kertas
d.Pemunggel Tali Jenah : berupa uang sesuai dengan jumlah ajikrame yang telah disepakati
e.Sedah lanjaran : bawaan yang berupa daun sirih, pinang, kapur sirih dan tembakau hitam.

7.  Nyongkolan 
Nyongkolan adalah sebuah kegiatan adat yang menyertai rangkaian acara dalam prosesi perkawinan pada suku sasak. kegiatan ini berupa arak-arakan kedua mempelai dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita, dengan diiringi keluarga dan kerabat mempelai pria, memakai baju adat, serta rombongan musik yang bisa gamelan atau kelompok penabuh rebana, atau disertai Gendang beleq pada kalangan bangsawan. Dalam pelaksanaannya, karena faktor jarak, maka prosesi ini tidak dilakukan secara harfiah, tetapi biasanya rombongan mulai berjalan dari jarak 1-0,5 km dari rumah mempelai wanita.
Tujuan dari prosesi ini adalah untuk memperkenalkan pasangan mempelai tersebut ke masyarakat, terutama pada kalangan kerabat maupun masyarakat dimana mempelai perempuan tinggal, karena biasanya seluruh rangkaian acara pernikahan dilaksanakan di pihak mempelai laki-laki. Sebagian peserta dalam prosesi ini biasanya membawa beberapa benda seperti hasil kebun, sayuran maupun buah-buahan yang akan bibagikan pada kerabat dan tetangga mempelai perempuan nantinya. Pada kalangan bangsawan urutan baris iring-iringan dan benda yang dibawanya memiliki aturan tertentu. Setelah kunjungan ini diterima dan dijamu oleh kerabat pengantin perempuan maka selesailah prosesi dari serangkaian upacara adat, kedua pengantin dan keluarga laki-laki kembali pulang kerumahnya dan pengantin perempuan telah resmi masuk ke dalam kerabat suaminya.

KESIMPULAN

            Sikap “heroik” (kepahlawanan) merupakan salah satu alasan mengapa tradisi melarikan (melaian) dipertahankan dalam perkawinan dengan kekuatan adat di Lombok. Sikap demikian menurut masyarakat Lombok merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan apabila berkeinginan untuk membina rumah tangga dengan calon mempelai perempuan yang sudah diidam-idamkan. Proses perkawinan bagi suku Sasak disadari sebagai peristiwa kehidupan yang dahsyat apalagi skenario yang ditempuh dengan cara mbait (merariq). Tidak dapat diukur seberapa dahsyatnya peristiwa merari’ itu telah mempengaruhi suasana emosional pihak keluarga besar calon pengantin wanita, karena itu pihak keluarga calon pengantin laki bersiap untuk menerima resiko, bahkan bila perlu ditebus dengan kematian sekalipun.
Dalam banyak aspek (ranah) kehidupan, ternyata perempuan Sasak masih sangat marginal (inferior), sementara kaum laki-lakinya sangat superior. Marginalisasi perempuan dan superioritas laki-laki memang merupakan persoalan lama dan termasuk bagian dari peninggalan sejarah masa lalu. Sejak lahir perempuan Sasak mulai disubordinatkan sebagai orang yang disiapkan menjadi isteri calon suaminya kelak dengan anggapan “ja’ne lalo/ja’ne tebait si’ semamenne” (suatu saat akan meninggalkan orang tua diambil dan dimiliki suaminya). Sementara, kelahiran seorang anak laki-laki pertama biasanya lebih disukai dan dikenal dengan istilah “anak prangge” (anak pewaris tahta orang tuanya). Begitu juga tradisi perkawinan Sasak, seakan-akan memposisikan perempuan sebagai barang dagangan. Hal ini terlihat dari awal proses perkawinan, yaitu dengan dilarikannya seorang perempuan yang dilanjutkan dengan adanya tawar menawar uang pisuke (jaminan).





   
PENERAPAN STRATEGI PEMASARAN  DALAM MENGHADAPI PERSAINGAN
 (STUDY KASUS DI INNA SAMUDRA BEACH HOTEL,
 SUKABUMI, JAWA BARAT)  

Disusun oleh :
Husnul Fakhri
100209


ABSTRACT


Competition in business environment is the most influencing factor of marketing strategy for enterprises, including hotels. The ability to survive and succeed is determined by optimizing the use of all resources and assessment of current competition atmosphere. Choosing the right strategy based on strengths, weaknesses, opportunities, and threats identification will significantly effect the positioning of hotels in the market. This paper presents an introductory assessment of existing position of hotels, followed by a discussion on competition strategy available. In addition to that, an overview of current competition in the market should give a better understanding of the matter.

Kata kunci: persaingan, strategi pemasaran hotel


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
   Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang sangat penting untuk memperluas kesempatan berusaha dan lapangan kerja, mendorong pembangunan daerah, mendorong pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat serta memupuk rasa cinta tanah air, memperkaya kebudayaan nasional dan memanfaatkan pembinaannya dan memperkokoh jati diri bangsa dan mempererat cinta kasih antar bangsa, hal ini tercermin dari UU No. 9 tahun 1990, mengenai kepariwisataan.
Laju industri pariwisata Indonesia dari tahun ke tahun dapat dikatakan mengalami peningkatan, walaupun sering kali mengalami pasang surut  karena bencana alam dan gangguan keamanan dalam negeri. 
     Keberhasilan sektor pariwisata mulai terasa sejak tahun 1987. Dengan penerimaan devisa sebesar US$ 945 juta, sektor pariwisata mampu menggeser sektor perkebunan (khususnya kopi) dan berhasil menduduki peringkat ke 6. Tahun 1990 berhasil menduduki peringkat ke-5 dengan pemasukan sebesar US$2.105,30 juta, menggeser pemasukan dari karet dan kopi ke peringkat ketujuh. Kemudian pada tahun 1994, sektor pariwisata telah menduduki peringkat ke tiga setelah industri tekstil dan industri pengolahan kayu dengan nilai ekspor sebesar US$4.965 juta atau 14,05 % dari total nilai ekspor.
    Perkembangan pariwisata berjalan sering dengan perkembangan sarana dan parasarana pariwisata, salah satunya adalah sarana akomodasi atau hotel. Sejarah perkembangan perhotelan di Indonesia belum banyak terungkap, juga belum banyak buku yang mengungkapkan masalah ini. Indonesia telah dikenal di dunia pariwisata sejak sebelum Perang Dunia ke I, tetapi jumlah wisatawan yang berkunjung masih terbilang ribuan.  Seiring dengan perkembangan kedatangan wisatawan asing ke indonesia yang lebih memerlukan sarana akomodasi pariwisata bersifat memadai, maka semasa penjajahan kolonial Belanda, mulai berkembanglah hotel-hotel di Indonesia. 
    Dari buku “Pariwisata Indonesia Dari Masa Ke Masa” tercatat hotel-hotel yang telah dibangun pada masa kolonial Belanda pada diantaranya :
   Hotel Des Indes, Hotel Der Nederlanden, Hotel Royal dan Hotel Rijswijk di Jakarta
   Hotel Sarkies dan Hotel Oranje di Surabaya yang sekarang menjadi hotel Majapahit
   Hotel Du Pavillion di Semarang
   Palace Hotel di Malang
   Slier Hotel di Solo
  Grand Hotel ( sekarang Hotel Inna Garuda ) di Yogyakarta
   Hotel Savoy Homann, Hotel Preanger dan Pension Van Hangel ( kini Hotel Panghegar ) di Bandung,
   Hotel Salak di Bogor
   Hotel de Boer dan Hotel Astoria di Medan,
   Grand Hotel dan Staat Hotel di Makasar.

    Kebanyakan hotel-hotel itu sampai sekarang masih ada, ada yang menjadi Herritage, ada yang sudah direnovasi menjadi lebih baik dan ada juga yang telah di-redevelopment total sehingga tidak ada lagi bentuk aslinya, seperti Hotel Des Indeks yang dalam perkembangannya pernah menjadi Hotel Duta Indonesia, kini pertokoan Duta Merlin. 
     Salah satu hotel yang masih memepertahankan bentuk aslinya adalah Sumudra Inna Beach Hotel yang terletak di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat atau sering disingkat dengan SBH. SBH adalah suatu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dibangun pada tahun 1962 dan rampung pada  akhir tahun 1965 kemudian diresmikan 15 Februari 1966. Pembangunan salah satu hotel termewah pertama di Indonesia ini diprakarsai mantan presiden Soekarno dengan menggunakan dana pampasan perang dari Jepang. 
     Meski masih berdiri kokoh, namun keberadaan hotel ini seakan usang di makan usia. Dinding-dinding hotel dipenuhi lumut, peralatan-peralatan kamar sebagian besar sudah lapuk dan di penuhi karat, dan banyak fasilitas yang tak terpakai lagi. Selain itu, Occupancy hotel ini terbilang sangat rendah, 1-3 tamu perhari. 
    SBH memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi, terutama keterkitannya dengan mantan presiden Indonesia yang lengendaris Ir. Soekarno. Dengan modal tersebut SBH seharusnya mampu membuat suatu konsep  untuk menarik minat wisatawan untuk berkunjung baik domestik maupun mancanegara dengan mengandalkan nilai historis yang di miliki. Berlatar belakang hal tersebut penulis melakukan penelitian yang berjudul “Penerapan Strategi Pemasaran Dalam Menghadapi Persaingan”, Dengan adanya strategi pemasaran yang baik, occupancy hotel akan sedikit meningkat dan mampu bersaing dengan hotel-hotel yang lain.

B. Perumusan Masalah
   Setiap manusia memiliki kerinduan untuk menikmati dan mempelajari asal usul serta apa yang pernah terjadi pada masa lampau.  Hal ini tanggung jawab semua pihak untuk ikut menjaga objektivitas sejarah dengan meneruskannya kepada generasi-generasi selanjutnya.
  1.Bagaimana Strategi Pemasaran Inna Samudra Beach Hotel untuk meningkatkan Occupancy ?
  2.Apa peran pemerintah sebagai pemengang saham SBH ?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan jurnal ilmiah ini adalah ;
1.Untuk memenuhi salah satu syarat menempuh ujian akhir semester.
2.Untuk mengetahui hal-hal yang tercantum dalam point 1.2.

D. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode observasi yaitu meninjau langsung objek peneltian dan studi pustaka yang terkait dengan tujuan penelitian.


PEMBAHASAN

A. Deskripsi Inna Samudra Beach Hotel
   Samudra Beach Hotel adalah suatu Badan Usaha Milik Negara, dibangun tahun 1962 dan selesai akhir tahun 1965, 3 bulan lebih cepat dari waktu yang telah direncanakan kemudian diresmikan 15 Februari. Biaya pembangunan hotel ini berasal dari dana pampasan perang Jepang sebesar Rp. 660 Milyard ( uang rupiah lama ) dan pelaksana pembangunannya adalah  Perusahaan Pembangunan Perumahan dari Indonesia dan Taisei Kanko Kabushiki Kaisha  Ltd. dari Jepang.
Inna Samudra Beach Hotel dibangun diatas lahan seluas 60 H termasuk lahan untuk pembuatan lapangan golf seluas 34,5 Ha, dengan tinggi bangunan 32 meter, panjang 100 meter,  dan lebar 13 meter. Letak bangunannya memanjang dari Timur ke Barat, bertulang beton dan menghadap Samudra Hindia.

A.1. Kamar Dan Fasilitas Kamar
Inna Samudra Beach Hotel memiliki 106 kamar  yang terdiri dari 100 kamar tamu, dan 6 kamar untuk pegawai (house use). Kamar tamu berada di lantai 3 sampai dengan lantai 7, dan setiap lantai terdapat 22 kamar dengan rinician sebagai berikut :
    a.Twin Bed Room : 63 kamar ( Standard ), luas 30 m2
    b.Double Bed Room : 33 kamar ( Superior ), luas 30 m2
    c.Standard Suite : 8 kamar ( Standard Suite + Samudra Suite), 1 kamar tidur, 1 ruang tamu, luas 60 m2
   d. Deluxe Suite :   2 kamar ( Executive Suite ), 2 kamar  tidur, ruang tamu, ruang makan & gudang, luas 120 m2

Dalam setiap kamar terdapat ;  kamar mandi dan bath tub, air panas & air dingin, toilet & wash basin, furnitures, lemari pakaian & cermin, meja rias, televisi , telepon, dan perlengkapan kamar mandi.
A.2. Fasilitas Pendukung
1. Meeting Room
Inna Samudra beach hotel memiliki meeting room yang cukup memadai untuk memenuhi keperluan tamu yang bermotif bisnis. Adapun meeting room tersebut dapat dilihat dalam tabel 1.

2. Food & Beverage Outlet
a.Raos Coffee Shop :  lantai 2
b.Warnasari Bar :  lantai 1
c.Room Service :  lantai 2
d.Pastry & Ice Cream :  lantai 2


3. Faslitas lainnya 
Selain fasilitas meeting yang memadai dan beberapa Food & Beverage Outlet  juga terdapat fasilitas pendukung lainnya seperti ; lapangan tenis, kolam renang, kolam pemancingan, taman bermain untuk anak-anak, voley pantai, tenis meja, meja billyard, dan beberapa fasilitas lainnya.

B. Posisi Inna Samudra Beach Hotel Dalam Pemasaran
Strategi pemasaran suatu hotel tergantung pada posisinya dalam pasar di antara para pesaing yang ada ;
1. Market Leader
   Hotel-hotel yang termasuk golongan ini memiliki pangsa pasar yang luas, karena posisinya dalam pasar cukup kuat.
2. Market Challenger
Yang digolongkan dalam kelompok hotel yang disebut penantang pasar (market challenger) adalah hotel-hotel yang menerapkan kebijaksanaan untuk melakukan konfrontasi langsung dengan hotel-hotel yang termasuk kelompok market leader.
3. Market Follower
4. Market Nicher
  Hotel-hotel seperti ini menyandang berbagai nama seperti; penggarap relung pasar, spesialisasi pasar,  perusahaan ambang pintu, atau perusahaan tumpuan. Market nicher menempati sebagian kecil dari seluruh pasar yang ada. Hotel jenis ini mencoba masuk kesatu atau lebih celah-celah pasar yang aman dan menguntungkan yang dilupakan atau terlewatkan oleh perusahaan besar. Umumnya market nicher adalah perusahaan yang mempunyai spesialisasi tertentu dan keahlian yang khas didalam pasar, konsumen, produk atau lini-lini dalam bauran pemasaran.

Dengan keaadaan SBH yang sedang terpuruk, menjadi market nicher merupakan suatu pilihan terbaik, mengingat SBH bukanlah Hotel baru, pengalaman dan keahliaan yang khas dalam pemasaran mungkin bungkalah suatu hal yang di ragukan. Dengan pertimbangan bahwa ; daya beli masyarakat terus meningkat, adanya kencendrungan dan potensi SBH terus berkembang, dan pekembangan teknologi informasi yang kian pesat.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, penulis berpendapat bahwa aspek sejarah bangunan merupakan sesuatu yang dapat kemas dengan konsep yang menarik sebagai produk andalan kemudian dipasarkan pada pasar-pasar tertentu. Alasannya adalah saat ini di dunia bahkan di Indonesia mulai banyak yang peduli terhadap keutuhan budaya masyarakat termasuk keberadaan heritage bangunan tua. Mereka membuat komunitas atau group yang memiliki ratusan bahkan ribuan anggota, misalnya Society For The Protection of Ancient Building, Ancient building Monument Society, Ancient Haritage Society, Civic Trust, kemudian yang ada di Indonesia antara lain; Bandung Heritage Society, Indonesian Heritage Society, dll.`Komunitas-komunitas tersebut dapat dijadikan suatu target pasar khusus dengan mengedepankan sosialisi, komunikasi yang baik, atau dengan bekerja sama mengadakan suatu event menarik yang terkait dengan sejarah SBH .

C. Strategi Persaingan
Persaingan merupakan faktor lingkungan usaha paling banyak mempengaruhi bentuk strategi pemasaran suatu perusahaan, seperti halnya dengan Inna Samudra Beach Hotel. Untuk dapat bertahan dan sukses, SBH seharusnya menggunakan semua kemampuannya setelah melakukan evaluasi lingkungan persaingan yang terjadi. Banyak hotel di dalam persaingan menggunakan macam-macam strategi agar sukses dalam bisnis yang digelutinya. Meskipun rumusan sukses itu sukar dilakukan, suatu  perencanaan strategi harus dilakukan dan mendapat perhatian.  Salah satu strategi sederhananya  adalah penggunaan ‘Brand’ atau Logo untuk membedakan SBH dengan hotel lainnya, di samping itu, penggunaan motto yang lebih menarik, menimbulkan rasa ingin tahu, mudah diingat agar cepat dikenal oleh orang banyak.
Ada empat strategi yang dianggap paling baik untuk dipertimbangkan SBH dalam menghadapi persaingan , yaitu:

C.1. Positioning Strategy
Strategi ini merupakan kombinasi yang biasa dilakukan dalam bauran pemasaran (marketing mix). SBH harus selalu berusaha membuat produk-produk yang mampu bersaing dan kemudian menentukan bauran pemasaran yang perlu diterapkan agar diperoleh nilai tambah bagi produk yang ditawarkan.
Misalnya, SBH ingin memposisikan dirinya sebagai Hotel Heritage terkemuka di Jawa Barat, dan menjadi pilihan para pemerhati sejarah, masyarakat yang ingin mempelajari bangunan, dan masyarakat pada umumnya. Tamu atau pengunjung hendak dibawa kembali ke zaman Soekarno, yang tak lain penggagas pendirian SBH tahun 1962.
Komposisi unsur-unsur marketing mix yang dapat digunakan, sampai berapa jauh manajer pemasaran dapat memenafaatkan unsur-unsur Product, Price, Place, Promotion, People, Positioning, dan Public Relations, sedemikian rupa sehingga hasilnya membuat masyarakat lebih mengenal Inna Samudra Beach Hotel daripada hotel lainnya.

C.2. Market Segmentation Strategy
Strategi ini berdasarkan atas kepercayaan bahwa suatu hotel akan lebih baik jika melayani segmen pasar yang lebih kecil daripada ikut bersaing dalam segmen pasar yang lebih besar. Alasannya, dalam segmen pasar yang kecil pengeluaran biayanya relatif lebih kecil dan dapat dilakukan diferensiasi. Hal ini dilakukan karena bauran produk  yang dimiliki hotel sangat terbatas dan tidak bisa memenuhi semua kebutuhan dan kemauan  segmen pasar.

C.3. Differentiation Strategy 
Diferensiasi diartikan sesuatu yang unik, berbeda dengan yang lain yang dapat dirasakan oleh tamu/pelanggan. Diferensiasi akan membuat produk atau jasa yang hasilkan lebih melekat dalam benak tamu/pengunjung, sebagai informasi, perbedaan yang ada pada produk maupun jasa, membuat konsumen lebih mudah untuk mengingat produk atau jasa yang dipasarkan karena adanya point of interest yang dimiliki, yaitu keunikan yang tidak dimiliki oleh produk atau jasa hotel lain.

C.4. Strategi Kepemimpinan Biaya Secara Keseluruhan

Strategi ini dapat dicapai dengan jalan suatu konstruksi yang agresif dari skala efisiensi, yaitu usaha keras dalam menekan biaya berdasarkan pengalaman yang sudah lampau, menghindari pelanggan-pelanggan marginal dan meminimalisasi biaya-biaya untuk keperluan penelitian, promosi, distribusi dan pemasaran, masing-masing departemen diminta meningkatkan efisiensi dan bekerja lebih produktif, sehingga tidak ada yang menjadi sia-sia.

D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemasaran
Dalam menyusun strategi pemasaran perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemasaran hotel. Menurut W. Lazar dan E.J.Kelly (1996) yang diperlukan untuk menerapkan pemasaran jasa ada 3 faktor, yaitu :
1.Instrumen Produk
Untuk memberikan kemudahan kepada wisatawan sebagai pemakai jasa, produk dijual dalam bentuk paket dengan memberikan pelayanan terpadu (integrated services)
2.Instrumen Distribusi
Untuk memenuhi kebutuhan tamu/pelanggan, mereka tidak perlu berhubungan langsung dengan perusahaan yang menjual jasa-jasa tersebut, tetapi cukup membeli melalui perantara seperti Tour Operator, Biro Perjalanan Wisata, Hotel Reservation Agent, Wholesaler atau Representative Office.
3.Instrumen Promosi
Agar Calon wisatawan dapat informasi yang lengkap dan akurat tentang produk atau jasa yang hendak dijual, perlu ada promotion materials seperti brochures, leaflets, booklet, poster atau tourist map, sehingga dengan memiliki sumber informasi tersebut mereka dapat mempersiapkan perjalanan wisata dengan baik dan memuaskan.

Kemudian menurut Agus Sulastiyono (2001) keberhasilan pemasaran hotel tergantung dari dua faktor, ialah :
1.Faktor yang dapat dikendalikan 
Bauran pemasaran dapat diubah dengan berbagai cara, misalnya: hotel dapat merubah atau mengganti media yang digunakan untuk mengiklankan produknya dari menggunakan media majalah ke media televisi, atau dari radio ke kupon promosi, sedangkan waktu dan uang merupakan faktor yang sifatnya terbatas.
2.  Faktor yang tidak dapat dikendalikan
Faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan adalah kejadian-kejadian diluar jangkauan manajer pemasaran. Faktor ini kadang-kadang disebut faktor eksternal, yang paling sedikit terdapat enam faktor eksternal seperti:
a. Kompetisi
b. Regulasi dan legalisasi
c. Lingkungan ekonomi
d. Teknologi,  Lingkungan dan Sosial budaya

E. Hubungan Timbal Balik Pelaku Usaha (SBH), Pemerintah, dan Masyarakat
Pariwisata merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang penting terutama di dalam meningkatkan taraf hidup penduduk. Untuk itu perlu kerjasama yang baik antara Pemerintah, masyarakat setempat dan pelaku bisnis. Dengan kata lain adalah simbiosis mutualisme antara ketiganya. Dalam hal ini, pamerintah adalah pemerintah sukabumi, masyarakat adalah masyarakat Sukabumi khususnya masyarakar Pelabuhan Ratu, dan pelaku bisnis adalah Inna Samudra Beach Hotel.

E.1. Peran Pemerintah Sebagai Pemegang Saham SBH
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa terdapat faktor yang tak dapat di kendalikan yang mempengaruhi keberhasilan pemasaran suatu hotel, salah satunya adalah regulasi dan legalilasisi. Pihak yang berwenang membuat regulasi tak lain adalah pemerintah. Pemerintah hendaknya memebuat aturan-aturan yang mendukung keberhasilan usaha perhotelan, terlebih pemerintah pun ikut berkecimpung dalam usaha tersebut. Di Indonesia terdapat banyak hotel yang sahamnya di pegang oleh pemerintah, salah satunnya yaitu Inna Samudra Beach Hotel,yang terletak di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.
Saat ini, Pemerintah Sukabumi, Jawa Barat tengah menggalakkan Pelabuhan Ratu sebagai daerah wisata, yaitu dengan melakukan berbagai macam promosi, selain itu Pemerintah Sukabumi juga tengah membenahi pantai-pantai di sepanjang pesisir Pelabuhan Ratu contohnya pantai Karang Kawu, serta mendirikan fasilitas pendukung pariwisata lainnya, salah satunya yaitu Pusat Informasi Pariwisata yang terletak di lokasi TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Pelabuhan Ratu. Hal ini dapat menjadi refrensi untuk pemasaran SBH dalm menyusun perencanaan yang matang dan strategi pemasaran yang jitu.
Namun hal itu hanya sebatas dukungan dukungan yang belum jelas indikator keberhasilnnya. Karena sejauh ini belum terlihat dan terasa peran nyata dari pemerintah sebagai pemilik saham dalam upaya memajukan SBH yang sedang terpuruk dalam persaingan. Hal ini dapat dilihat bangunan hotel yang terawat dengan baik dan sepinya tamu yang datang ke SBH. Ada baiknya, Saham SBH di serahkan kepada pihak swasta. Karena pada kenyataanya pihak swasta lebih profesional daripada pemerintah dalam hal bisnis perhotelan.

E.2. Partisipasi Masyarakat
      Bentuk partisipasi masyarakat dalam mendukung suatu daerah pariwisata adalah: Pertama, kemauan memperbaiki taraf hidupnya. Kedua, keinginan melestarikan kekayaan alam sekitar. Ketiga, keinginan menjaga keamanan daerah mereka dari pengaruh-pengaruh negatif, serta Keempat, keinginan mempertahankan dan memperkenalkan budaya setempat.
 Menurut pengamatan penulis dalam studi kasus yang dilakukan di Pelabuhan  Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, taraf  hidup mayarakat setempat sebagian besar berada dibawah garis kemiskinan, dan merupakan salah satu daerah termiskin di Indonesia. Sehingga partsipasi masyarakat dalam mendukung pengembangan pariwisata masih kurang terutama dalam membentuk suatu masyarakat sadar wisata.
Bentuk partisipasi yang telihat adalah keinginan masyarakat untuk mempertahankan dan memperkenalkan budaya, salah satunya adalah masyarakat Desa Cisungsang yang masih mempertahankan keasliaan budayanya sejak ratusan tahun, selain mereka juga bersedia menerima kedatangan masyakat umum yang ingin mengenal budaya mereka.
Hal ini merupakan asset yang sangat berharga bagi pariwisata Sukabumi khususnya Pelabuhan Ratu. Dan bagi SBH, hal ini dapat dijadikan salah satu segmen pasar yang baik dan sarana untuk mendatangkan wisatawan untuk menginap sekaligus melihat dan mengenal kebudayaan masyarakat setempat.

E.3. Peran Pelaku Usaha (SBH)
Hotel, dalam hal ini adalah Inna Samudra Beach Hotel dalam operasionalnya tak dapat hanya memperhatikan faktor internal seperti kemegahan dan kelengkapan fasilitas semata, tapi ada dua hal yang tak kalah penting yaitu pemerintah dan masyarakat sekitar hotel tersebut berdiri. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan penyedia sarana, serta partipasi masyarakat sebagai pendukung  berjalannya industri pariwisata secara menyeluruh dalam suatu daerah. Untuk itu diperlukan hubungan timbal balik antara ketiganya.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan penulis, Inna Samudra Beach Hotel merupakan Hotel penyumbang pajak terbesar di daerah Sukabumi. Hal ini merupakan sumbangan yang cukup tinggi terhadap PAD Sukabumi, sehingga pemerintah dapat menambah dan merawat infrastruktur daerah, seperti perbaikan dan pelebaran jalan, pembukaan jalan baru, pembangunan jembatan serta sarana pendukung pariwisata seperti yang saat ini tengah dilakukan pemerintah Sukabumi.
Kemudian peran SBH terhadap masyarakat sekitar adalah (1) Penyedia  lapangan kerja; sebagaian besar karyawan SBH merupakan masyarakat sekitar Pelabuhan Ratu, (2) Memperluas lapangan kerja; keberadaan SBH memberikan peluang kepada mayarakat sekitar untuk mendirikan usaha-usaha baru.

















PENUTUP


A. Kesimpulan
Untuk dapat bertahan dan sukses, SBH harus  menggunakan semua kemampuannya setelah melakukan evaluasi lingkungan persaingan yang terjadi. Kemudian menerapkan strategi pemasaran yang tepat yang di awali dengan penentuan posisi dalam pasar. Stategi yang dapat di gunakan antara lain ;
1.Positioning Strategy
2.Market Segmentation Strategy
3.Differentiation Strategy 
4.Strategi Kepemimpinan Biaya Secara Keseluruhan
Dalam menentukan strategi pemasaran yang tepat harus mempengaruhi factor yang mempengaruhi keberhasilan pemasaran, yaitu;
1.Instrument Produk
2.Instrument Distribusi 
3.Instrument Promosi
Faktor-faktor yang tak dapat dikendalikan, seperti, kompetisi, regulasi dan legalisasi, lingkungan ekonomi, teknologi, lingkungan dan sosial budaya.

B. Saran 
1. Bagi Pihak Inna Samudra Beach
Inna Samudra Beach Hotel  perlu menganalisis kekuatan dan kelemahan dalam setiap bidang atau department – pemasaran, pengenbangan produk , keuangan dan hubungan dengan masyarakat. Dalam mengkaji kekuatan, kelemahan, dan pembatasan-pembatasannya harus bersikap realistis. Namun dalam melakukan hal tersebut perlu juga diperhatikan resiko terlalu menekankan kelemahan dan kekeliruan perkiraan tentang kekuatan.
SBH sepertinya terlalu banyak melakukan upaya mengkaji kelemahan sehingga lupa mendayagunkan kekuatan yang dimiliki.  Tidak salah bahwa bahwa kelemahan harus diperbaiki. Tetapi, perlu pengidentifikasian kekuatan (strength) dan pemanfaatan kekuatan itu dalam penyusunan strategi memberikan peluang yang besar.
2. Bagi Pemerintah Sukabumi
Kemudian, bagi pemerintah Sukabumi pengembangan pariwisata Sukabumi khususnya Pelabuhan Ratu haruslah pengembangan yang berkesinambungan, taitu pemgembangan yang membawa manfaat secara jangka panjang serta melalui perencanaan yang baik, terutamanya harus dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat dan menjauhkan dari dampak negatif seperti menurunnya pendapatan, menurunnya kualitas alam, dan kerusakan alam. Tujuan pembangunan berkesinambungan, salah satunya adalah memberi kesempatan dan lapangan kerja bagi para penduduk sekitar daerah pariwisata. Sehingga para penduduk dapat memperoleh hasil dari kekayaan alam sekitar yang telah dibangun dengan memanfaatkan keterampilan yang mereka miliki.

3. Bagi Masyarakat
Masyarakat harus mempertahan kelangsungan kesenian serta kebudayaan yang mereka miliki, karena hal tersebut merupakan asset yang sangat berharga yang akan menghasilkan uang bilamana seni budaya tersebut menarik minat wisatawan karena keindahan dan keunikannya. Kemudian juga harus menjaga ketertiban, memberi perhatian yang lebih besar pada upaya pelestarian lingkungan, ramah terhadap seseorang ataupun wisatawan sebagai cerminan sikap baik dalam pergaulan.  berperan aktif melaksanakan tindakan pencegahan terhadap kriminalitas dan tindakan tindakan lain yang merugikan.